Header Ads

ad

Teknik Pembuatan Batik Tulis dengan Warna Alami


Sekilas Batik Tulis yang menggunakan Pewarna Alami akan terlihat "mbladus" dan mudah pudar warnanya,dibanding dengan batik dengan pewarna Syntetis yang cenderung "Ngejreng". Penggunaan Warna Alami selain lebih Ramah Lingkungan, juga turut Melestarikan Kebudayaan Bangsa yaitu kembali seperti batik aslinya di zaman dulu ketika menggunakan bahan kayu ataupun akar pohon sebagai pewarna batik. Walaupun begitu tidak semua kayu dapat dijadikan pewarna batik. Diantara kayu yang dapat digunakan sebagai pewarna batik adalah kayu pohon Indigo yang menghasilkan warna Biru dan pohon Soga yang menghasilkan warna Coklat. Kayu soga ini mempunyai tiga macam jenis yaitu kayu Tingi, Tegeran, dan Jambal. Adapun secara lengkap bahan pewarna alami yang digunakan oleh Bixa untuk produk batiknya antara lain Indigofera Tinctoria, Bixa Orellana, Caesalpinia Sappan, Cundrania Javanensis (Machlura Rachanhinensis)

Pelangi tidak akan indah jika tidak memiliki Warna begitu juga dengan Kain Batik Tulis. Jika hanya berupa Motif saja tentunya kain batik yang diciptakan akan menjadi kurang indah. Untuk memberikan nuansa indah tersebut kita membutuhkan warna dalam kain batik. Macam-macam pewarnaan Alami dalam Batik Tulis sebagai berikut:
1. Medel
pemberian warna biru tua pada kain yang dicap klowongan dan tembok dengan cara dicelup. Dahulu proses ini menggunakan nila dari daun indigofera (daun-tom) karena memiliki daya pewarna lambat, maka harus dilakukan secara berulang-ulang dan penuh Kesabaran serta Ketelitian agar Pewarnaan nya bisa merata.
2. Celupan warna dasar

Batik-batik Tulis daerah Pekalongan, Cirebon, Banyumas dan lainnya yang warnanya tidak diwedel namun diganti warna lain seperti violet, merah, hijau orange dan lainnya. Hal ini agar pewarnaan berikutnya tidak berubah. bahan pewarna yang bisa dipakai biasanya memiliki ketahanan yang baik seperti pewarna indigosol, Napthol/Indanthreen.

3. Menggadung


Yakni menyiram kain batik dengan larutan zat warna. Tekniknya dengan menggelar kain kemudian disiram dengan larutan pewarna. Cara ini menghemat zat warna namun menjadi agak kurang merata karena pemerataannya dilakukan dengan menyapunya. Pewarnaan ini sering dilakukan oleh pembatik di Pekalongan untuk warna pada kain sarung atau buket.

4. Coletan ( Dulitan )

Yakni pemberian warna dengan kuas atau dilukis dimana bagian yang diwarnai dibatasi oleh garis perintang Malam ( Lilin ). Pewarna yang biasa digunakan seperti Rapid dan Indigosol

5. Menyoga

Pemberian warna coklat pada kain batik tulis. Bagi daerah jogja Solo, ini merupakan pewarnaan terakhir. Zaman dahulu pewarnaan menggunakan kulit pohon soga. Sekarang banyak digunakan pewarnan seperti Soga Ergan. Chroom. Kopel Naphtol, indigosol/kombinasii dari bahan bahan pewarna alami lain nya.

Proses pembuatan Batik Tulis Warna Alami sebenarnya tidak susah, hanya saja memerlukan ketelatenan dan kesabaran. Umumnya untuk menghasilkan warna yang kita inginkan diperlukan waktu yang tidak sebentar. Kita akan menghabiskan waktu berhari-hari bahkan hingga hitungan minggu.

Bahan untuk pewarnanya sendiri didapat dengan cara "mengekstrak" bagian-bagian dari tumbuhan penghasil celup, seperti Batang, Kulit kayu, Daun, Akar-akaran, Bunga biji-bijian, Buah-buahan, dan Getah pohon. Pengekstrakan dapat dilakukan baik pada temperatur rendah maupun temperatur tinggi dengan menggunakan air sebagai pelarut.

Pembuatan batik warna alam terbagi tiga jenis yaitu bejana (rebus), fermentasi (pembusukan), dan direct (langsung). Agar bahan-bahan yang kita gunakan bisa menempel kuat di kain, proses pewarnaan harus dibantu dengan apa yang disebut "fiksasi". Jenis bahan fiksasi ada tiga, yaitu :
1. Kapur : untuk menghasilkan warna yang muda atau terang
2. Tawas : untuk memperoleh warna dasar atau asalnya
3. Tunjung : agar menghasilkan warna yang lebih tua.

Bagian terpenting dalam Proses Pewarnaan Alami ini disebut "Mordanting". Bisa dikatakan, berhasil atau tidaknya suatu proses pewarnaan tergantung dari proses mordanting. Itu sebabnya mordanting harus dilakukan secara hati-hati, akurat, dan tidak terlalu cepat, agar menghasilkan warna yang stabil.

Pada dasarnya mordanting dilakukan untuk menghasilkan warna-warna permanen. warna-warna mordan yang umum digunakan adalah Alum, Chrome, Iron, Tin, Lime, dan Tannin. Namun yang biasa digunakan adalah Alum (Potassium aluminium sulphte), Iron (Ferrous sulphat/copperas/green vitriol), Lime (Ca Co3), dan Tannin, karena bahan ini "aman" digunakan.

Bila kita meninjau mengenai Batik Tulis maka kita bertanya terlebih dahulu dasi segi mana kita akan meninjau. Batik dapat ditinjau dari berbagai segi yaitu sebagai Seni Batik dan Teknik Batik. Peninjau batik menurut segi seni batik yakni meninjau dari pewarnaan baik itu arti warna, keharmionisan dan sebagainya tentang pewarnaan. sedangkan dari segi teknik yakni melihat bahan, tenik maupun proses dalam pewarnaannya. penijauan ini saling berkaitan sangat sulit untuk memisahkannya kedua unsur ini. apalagi dengan meninjau secara kronologis urutan mengenai zaman maupun periode pembuatan hal ini karena bahan-bahan yang kita miliki belum terlalu lengkap.
secara umum warna-warna yang sering dipapaki dalam pewarnaan batik sebagai berikut:
1. Warna hitam
2. warna biru tua
3. warna soga/ coklat
4. warna mengkudu/ merah tua
5. warna hijau
6. warna kekuningan
7. warna violet
Zaman dahulu kain batik hanya dibuat dengan satu macam warna yakni Merah Tua atau Biru Tua seperti di daerah Jawa Barat yang disebut “Kain Simbut” dengan motif garis-garis berwana putih dan warna dasar Merah Tua. Di jawa tengah dikenal dengan “Kain Kelengan” yang berwarna dasar Biru Tua. batik dengan satu warna ini cukup popular di daerah Jawa Barat seperti "Kain Balakbag" dari Tasik dan “Mego-Mendung” serta “Kain Bukit-Batu” dari Cirebon.
Dalam perkembangan selanjutnya pewarnaan menggunakan dua macam warna yakni biru tua dan warna soga atau coklat. Hal ini bergantung bagaimana proses pembuatannya, warna biru tua masih tetap atau berubah menjadi hitam kerna pengaruh warna coklat. Kain dengan pewarnaan ini cukup popular di daerah Jawa Tengah seperti dari Jogja, Sala, Semarang dan Ponorogo. sedangkan di daerah Jawa Barat dikenal denga proses Bedesan. di daerah Pekalongan, Lasem, Cirebon sudah biasa menggunakan warna-warna lain seperti hijau,kuning, merah dan ungu.
Namun dengan perkembangan Teknologi Pewarnaan batik senantiasa berkembang dan semakin bervariatif. sehingga batik menjadi lebih hidup dan semakin berinteraksi dengan manusia selain dengan keindahan motif-motif yang dimilikinya, tanpa mengkesampingkan dampak terhadap alam sekitar karena sangat ramah lingkungan.